Paling tidak terdapat empat penyakit utama yang diketahui sering menyerang tanaman karet, antara lain :
Penyakit 1. Phytophthora
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Phytophthora botriosa atau Phytophthora palmivora. Kedua cendawan tersebut mempunyai spora di bagian pucuknya. Penularannya melalui spora yang ditium angin serta air hujan. Bahkan spora-spora tadi bisa bertahan hidup di bawah tanah dan daun yang telah gugur. Penyakit Phytophthora akan semakin menjadi-jadi pada musim penghujan.
Walaupun Phytophthora merupakan penyakit daun tanaman karet, tetapi gejala awalnya jusru tampak dari buah karet yang menghitam hingga membusuk. Dari bagian yang telah terjangkit ini, selanjutnya penyakit Phytophthora akan menyebar/meluas ke bagian daun lain sampai tangkai tanaman. Alhasil tangkai tersebut akan jatuh berguguran meskipun kondisi daunnya masih hijau segar. Tanda lainnya yaitu terdapat bercak hitam di tangkai tersebut.
Hindari menanam klon yang peka terhadap penyakit Phytophthora antara lain PB 86, PRIM 600, PR 107, dan TJIR 1. Ini merupakan upaya pencegahan yang paling sederhana. Sedangkan untuk pengendalian terhadap serangan penyakit ini bisa dilakukan dengan menyemprotkan fungisida Cupravit atau Cobox menggunakan alat mist blower yang bisa dibeli di Toko AlatPerabotan.com. Silakan baca panduan pada kemasannya terlebih dahulu.

Penyakit 2. Helminthosporium
Penyakit mata burung (Helminthosporium) adalah penyakit pohon karet yang dipicu oleh serangan cendawan Helminthosporium heveae. Cendawan ini mempunyai hifa berwarna putih dan spora yang warnanya cokelat. Tanaman karet yang berusia relatif mudah lebih rentan terkena penyakit ini, terutama tanaman di fase persemaian dan pembibitan. Dampak yang ditimbulkannya yakni pertumbuhan tanaman menjadi terhambat.
Serangan penyakit Helminthosporium lebih sering terjadi pada musim kemarau. Diketahui bahwa tanaman yang terlalu banyak mendapatkan pupuk nitrogen, kondisinya lemah, dan kekurangan air rawan sekali terjangkit penyakit ini. Gejala infeksinya berupa perubahan daun-daun mudah menjadi hitam, menggulung, lalu berguguran. Spora cendawan Helminthosporium heveae biasanya menyebar melalui angin, hujan, dan alat pertanian.
Penyakit 3. Colletotrichum
Cendawan Colletotrichum gloeosporoides menjadi penyebab utama timbulnya penyakit ini pada tanaman karet. Akibatnya tanaman yang terinfeksi akan menunjukkan gejala seperti daun-daun muda terlihat layu dan menghitam, permukaannya keriput, bagian ujungnya mati, berbentuk menggulung, hingga akhirnya daun tersebut jatuh berguguran. Sedangkan serangan pada daun-daun tua menyebabkan timbulnya bercak hitam/cokelat, lubang, keriput, dan ujungnya mati.
Musim penghujan biasanya waktu yang paling rawan bagi pohon karet terkena penyakit Colletotrichum, khususnya pada tanaman yang baru menumbuhkan daun-daun baru. Perkebunan karet yang terletak di dataran tinggi dengan kelembaban udara dan curah hujan yang tinggi juga rentan sekali mendapatkan serangan. Cendawan Colletotrichum gloeosporoides menyebar luas ke perkebunan melalui spora yang dibawa air hujan dan angin di malam hari.
Agar tanaman karet tidak terkena penyakit Colletotrichum, perlu dilakukan upaya pencegahan seperti pemberian pupuk secara inensif untuk mempercepat pembentukan daun-daun muda serta pemantauan terhadap kondisi setiap tanaman karet. Sedangkan untuk pengendaliannya bisa mengandalkan fungisida yang disemprotkan seminggu sekali sebanyak 5 kali berturut-turut. Penyemprotan fungisida ini tidak boleh dilakukan bersamaan dengan penyadapan karena dapat menurunkan mutu lateks.
Penyakit 4. Corynespora
Sementara itu, penyakit terkahir pada daun tumbuhan karet ditimbulkan oleh cendawan Corynespora cassiicola. Cendawan yang satu ini memiliki hitam berwarna hitam pucat yang biasanya terletak di permukaan daun dan sulit dilihat. Penyebarannya adalah melalui spora yang diterbangkan oleh hembusan angin. Kendati serangannya cukup lambat, tetapi penyakit ini harus diwaspadai karena dampaknya bisa menurunkan produksi lateks.
Tanaman karet yang terserang penyakit Corynespora akan menunjukkan gejala-gejala meliputi adanya bercak-bercak hitam di daun muda. Selanjutnya daun akan layu, lemas, ujungnya mati, lalu menggulung. Begitu pula dengan daun-daun tua akan menunjukkan gejala yang hampir serupa yaitu daun memiliki bercak hitam dan menyirip. Seiring dengan meluasnya serangan penyakit ini akan membuat daun karet menguning dan gugur.
Penyakit Corynespora bisa dikendalikan memakai fungisida Tridemorf dan Mankozeb. Kedua fungisida ini sangat bagus untuk mengatasi serangan penyakit Corynespora pada tanaman yang belum menghasilkan. Sedangkan untuk tanaman yang sudah menghasilkan bisa diberikan pengobatan menggunakan Tridemorf atau Calixin 750. Gunakan dosis sebanyak 500 ml/ha yang diaplikasikan ke perkebunan seminggu sekali selama 3-4 kali.
Komentar
Posting Komentar