Apakah hama-hama yang menyerang tanaman karet? Banyak sekali para petani yang memilih bercocok tanam pohon karet karena tergiur dengan potensi hasilnya. Meskipun pada awalnya dibutuhkan biaya tidak sedikit serta perawatan maksimal setiap hari, tetapi kalau pohon tersebut sudah menghasilkan getah, pemiliknya tinggal merasakan panen terus-menerus. Dengan pengelolaan yang tepat, sudah pasti bertani tanaman karet bisa menjadi mata pencaharian yang sangat menjanjikan.
Tetapi sama seperti tanaman-tanaman perkebunan lainnya, tanaman karet pun tidak luput dengan serangan hama. Ada berbagai macam jenis hama yang suka menggerogoti tanaman karet mulai dari bagian akar, batang, daun, biji, sampai buahnya. Serangan hama ini harus segera ditangani dengan baik supaya dampaknya tidak semakin meluas sehingga pohon karet milik Anda dapat tumbuh optimal dan memiliki tingkat produktivitas yang tinggi.

Setidaknya terdapat tujuh hama yang tercatat kerap melakukan penyerangan pada tanaman karet, antara lain :
- Tikus
Tanaman karet pada fase perkecambahan hingga persemaian rawan mendapatkan serangan dari tikus. Tikus suka memakan biji-biji karet yang sedang dikecambahkan serta daun dari bibit tanaman karet yang masih muda. Upaya pencegahan yang paling mudah ialah memasang pagar yang mengelilingi area perkecambahan/persemaian untuk mencegah tikus memasukinya. Kemudian sebar juga beberapa perangkap tikus di sekitar area tersebut.
- Belalang
Belalang biasanya menyerang tanaman karet pada fase penyemaian yakni dengan memakan bagian pucuk daun serta daun-daun yang kondisinya masih muda. Hati-hati karena serangga ini sangat rakus dalam menggerogoti tanaman karet. Apabila seluruh bagian daun muda tanaman karet sudah habis, mereka tidak ragu untuk memakan daun tua sampai tangkainya sekalipun. Pengendalian terhadap belalang sebaiknya dilakukan secara kimiawi menggunakan thiodan sebanyak 1,5 ml/L air. Lakukan penyemprotan memakai insektisida ini setiap 1-2 minggu.
- Bekicot
Bekicot kerap ditemukan sedang asyik memakan daun-daun karet di kebun pembibitan. Gejalanya yaitu daun karet menjadi patah-patah dan terdapat semacam alur/jalan berwarna perak mengkilap yang merupakan bekas jejak bekicot. Semua bekicot yang ditemukan harus segera dimusnahkan. Anda pun dapat menaruh umpan beracun khusus untuk bekicot. Umpan ini terbuat dari campuran meradex, semen, kapur, dan dedak dengan perbandingan 2:3:5:16.
- Uret tanah
Uret tanah sebenarnya merupakan tahap larva dari beberapa jenis kumbang. Bentuk tubuhnya menyerupai huruf C dan berwarna putih sampai kuning pucat. Uret tanah ini hobi sekali memakan bagian bibit tanaman karet yang berada di dalam tanah. Pencegahannya bisa menggunakan Furadan 3G, Diazinon 10G, atau Basudin 10G yang disebarkan di sekitar pohon dengan dosis sebanyak 10 gram/pohon.
- Rayap
Hama rayap bisa menimbulkan kerusakan yang sangat berat pada tanaman karet. Serangga ini sanggup menggerogoti seluruh bagian tumbuhan, mulai dari bagian ujung stum sampai ke sistem perakarannya. Anda bisa mengendalikan serangannya dengan menanam batang singkong di dekat bibit karet sehingga rayap akan memakannya. Selanjutnya untuk pemberantasan rayap yang jumlahnya terlalu banyak bisa memanfaatkan insektisida Furadan 3G, Agrolene 26WP, atau Lindamul 250EC.
- Kutu
Terdapat cukup banyak kutu yang merusak tanaman karet. Di antaranya meliputi Planococcus citri, Saissetia nigra, Ferrisiana virgata, Laccifer greeni, dan Laccifer lacca. Biasanya kutu-kutu ini menusuk pucuk batang dan daun muda tanaman karet untuk menghisap cairan yang ada di dalamnya. Akibatnya bagian yang terserang pun akan menguning lalu mengering. Hal ini membuat pertumbuhan pohon karet secara keseluruhan menjadi terhambat.
- Tungau
Tanaman karet yang masih berada pada fase persemaian juga rentan terkena serangan tungau. Hama ini biasanya menghisap cairan yang tersimpan di dalam daun karet yang masih muda sehingga menyebabkan timbulnya bintik-bintik kuning pada permukaan daun tersebut. Untuk mendapatkan hasil yang efektif, pemberantasan tungau bisa dilakukan dengan metode kimiawi. Misalnya seperti blowing menggunakan serbuk belerang sebanyak 5-10 kg/hektar, model 1% dengan dosis 300-400 liter/hektar, atau Endrin 19.2% dan EC 1% sebanyak 500 liter/hektar.
Komentar
Posting Komentar