Bagaimana cara mengendalikan gulma pada tanaman karet? Seperti kita tahu, gulma pada dasarnya merupakan tanaman yang semestinya tidak tumbuh di lahan perkebunan yang digarap. Semua tumbuhan bisa disebut gulma apabila tumbuh di tempat dan waktu yang tidak tepat. Misalnya ketika Anda sedang menanam bibit karet lalu tumbuh mangga di dekatnya, maka tanaman mangga tadi bisa dikatakan gulma.
Gulma harus dikendalikan sesegera mungkin karena bisa mengganggu pertumbuhan tanaman karet yang dibudidayakan. Gulma tersebut akan menimbulkan persaingan akar tanaman dalam mendapatkan air dan unsur hara. Beberapa gulma bahkan secara langsung bisa menyebabkan kerusakan dan kematian pada tanaman utama. Pengendalian perlu dilakukan untuk meminimalisir kerugian yang disebabkan oleh gulma tersebut.

Di bawah ini dampak-dampak yang dapat ditimbulkan oleh gulma, antara lain :
- Menghambat pertumbuhan tanaman karet dan menurunkan tingkat produktivitasnya sebagai akibat dari persaingan dalam memperoleh air, unsur hara, sinar matahari, karbondioksida, dan ruang tumbuh.
- Mengganggu pekerja dalam menyadap getah dan mengumpulkan lateks sehingga mengakibatkan biaya produksi semakin membengkak.
- Menyebabkan pemborosan biaya pemeliharaan tanaman karet bahkan mencapai 50-70 persen untuk tanaman belum menghasilkan serta 20-30 persen untuk tanaman menghasilkan.
- Menjadi sarang bibit penyakit yang berbahaya bagi tanaman karet dan menyebabkan tingkat kelembaban udara di perkebunan meningkat sehingga memicu pertumbuhan jamur.
- Memicu terjadinya kebakaran pada musim kemarau, khususnya untuk gulma yang berjenis alang-alang.
PENGENDALIAN
Metode pengendalian gulma yang tumbuh di perkebunan karet bisa dilakukan secara mekanis, kultur teknis, dan kimiawi. Masing-masing metode tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri sehingga perlu diterapkan secara bijaksana.
- Pengendalian secara Mekanis
Pada prinsipnya, pengendalian gulma secara mekanis dilakukan menggunakan alat-alat sederhana. Misalnya seperti cangkul, parang, arit, dan lain-lain. Meskipun pelaksanaannya sangat mudah, tetapi metode ini mengakibatkan kebutuhan tenaga, biaya, dan waktu semakin banyak. Pekerjaannya pun harus dilakukan hati-hati jangan sampai melukai bagian akar tanaman karet. Jika area perkebunan cukup luas, penerapan metode mekanis ini pun dirasakan kurang efektif.
- Pengendalian secara Kultur Teknis
Metode pengendalian gulma secara kultur teknis dikerjakan dengan memanfaatkan makhluk hidup sebagai pembasmi atau pencegah pertumbuhan gulma. Di Indonesia, metode ini biasanya diaplikasikan memakai tanaman leguminosa sebagai penutup tanah. Selain mampu menekan pertumbuhan gulma, tanaman ini juga dapat meningkatkan kandungan bahan organik dan unsur hara di dalam tanah. Sayangnya biaya yang diperlukan untuk menerapkan metode kultur teknis ini relatif mahal sehingga tidak terjangkau bagi sebagian besar petani.
- Pengendalian secara Kimiawi
Metode pengendalian secara kimiawi mampu memberikan hasil yang cepat dan nyata. Gulma yang telah disemprot menggunakan bahan-bahan kimia seperti herbisida akan cepat binasa dan terganggu pertumbuhannya. Namun penerapan herbisida ini harus dilakukan dengan tepat. Jika asal-asalan, maka bisa merusak area lahan perkebunan dan menyebabkan tanah menjadi tandus.
Komentar
Posting Komentar