Apa sajakah hasil olahan tanaman karet? Pohon karet pada dasarnya dibudidayakan untuk diambil getah yang terkandung di dalam batangnya. Getah karet atau lateks ini diambil melalui proses penyadapan. Penyadapan dilakukan dengan membuka pembuluh lateks supaya getah/lateks yang terkandung di dalamnya dapat mengalir keluar. Caranya yaitu mengikis kulit batang tanaman karet dengan kedalaman tertentu yang arahnya tegak lurus dengan pembuluh lateks tersebut.
Kualitas lateks yang diperoleh sangat dipengaruhi oleh penangannya mulai dari proses penyadapan hingga proses pengolahannya. Standar untuk menilai mutunya dinyatakan dalam DRC (Dry Rubber Contain) atau KKK (Kadar Kering Karet). Semakin tinggi nilai DRC atau KKK yang dimiliki oleh suatu lateks, artinya kualitas bahan olah karet tersebut semakin bagus pula. Untuk mencapai kualitas yang paling maksimal, terdapat lima faktor yang wajib diperhatikan dalam menangani bahan olah karet yaitu :
- Penggunaan bahan-bahan pembeku yang benar dengan dosis tepat.
- Proses pembekuan tidak ditambah bahan-bahan non karet.
- Tempat penyimpanan harus aman, teduh, dan ternaungi.
- Lateks yang telah didapatkan tidak boleh direndam.
- Tempat pengumpulan mempunyai sirkulasi udara yang lancar.

Berikut ini jenis-jenis bahan olahan karet yang terkenal, di antaranya :
Pertama. Lateks
Lateks kebun merupakan getah yang didapatkan melalui upaya perlukaan kulit tanaman karet (Hevea brasiliensis). Getah karet tersebut banyak terdapat di batang dengan wujud berupa cairan berwarna putih dan baunya segar. Komposisi yang ada di lateks kebun meliputi partikel karet dan bahan karet. Seringkali bahan bukan karet seperti karbohidrat, protein, lemak, dan ion logam mencemari lateks kebun sehingga kerap memicu pertumbuhan bakteri.
Penanganan lateks kebun mulai dari pohon sampai ke pengangkutannya wajib dilaksanakan dengan baik sesuai standar yang berlaku. Semua peralatan yang digunakan harus dalam kondisi bersih dan steril. Bahan pengawet yang ditambahkan pun perlu disesuaikan dengan jenis produk olahan yang akan dihasilkan. Biasanya lateks kebun disimpan dalam tangki yang berkapasitas 1.000 kg lalu dicampur dengan amonia sebanyak 7 kg yang telah dilarutkan dalam zat anti basi sekitar 400-600 cc. Getah yang layak dimasukkan ke tangki memiliki kadar DRC 100 yang dapat diukur menggunakan metrolug.
Kedua. Lump
Lump ialah gumpalan karet yang masih tertinggal di dalam mangkuk sadap atau wadah penampung yang lain. Lump ini dapat diproses dengan menggumpalkannya menggunakan asam semut atau bahan penggumpal alami lainnya. Pengerjaan proses penggumpalan ini bisa dilakukan dengan menambahkan bahan larutan penggumpal 5 persen ke dalam mangkuk sebanyak 60-80 ml/L lateks setelah pohon dideres. Apabila produksi pohon sekitar 150-350 ml, maka bahan penggumpal yang perlu ditambahkan per mangkuk berkisar antara 10-25 ml.
Untuk mempermudah dalam menambahkan bahan penggumpal, Anda bisa memanfaatkan labu semprot atau botol air baterai. Pencetlah botol tersebut sesuai dengan ukuran lubang yang dimilikinya sehingga bahan penggumpal yang keluar pun tidak berlebihan. Biasanya dalam sekali pencet akan mengeluarkan bahan penggumpal sebanyak 5 ml. Jadi Anda hanya perlu melakukan pemencetan botol hingga sebanyak 2-5 kali.
Waktu penambahan bahan penggumpal yang paling bagus dilakukan setelah lateks benar-benar berhenti menetes dari bidang sadap. Dengan begini, volume lump yang ada di masing-masing mangkuk pun dapat diperkirakan dengan lebih mudah dan akurat. Sedangkan untuk waktu pengutipannya sebaiknya dilaksanakan pada sore hari atau ketika akan menderas lagi. Semua lump mangkuk yang sudah berhasil dikumpulkan lantas disimpan di atas rak-rak kayu supaya kadar air koalugum di dalamnya bisa menetes sehingga kemurniannya pun dapat terjaga.
Ketiga. Slab
Slab yaitu gumpalan yang berasal dari lateks kebun yang sengaja digumpalkan. Slab bisa dibuat dengan atau tanpa lateks alias lump saja. Proses pembuatannya dimulai dengan mengutip dan mengumpulkan lateks kebun untuk selanjutnya digumpalkan memakai bahan penggumpal dengan dosis seperti pada pembuatan lump. Slab juga wajib dijaga kebersihannya agar kualitasnya tidak menurun akibat tercemar oleh kotoran.
Bentuk slab yang dihasilkan dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran wadah pencetaknya. Anda bisa mencetak slab menggunakan kotak aluminium, kotak kayu, atau kotak dari semen. Kalau mau menggunakan wadah pencetak dari tanah, bagian alasnya harus dilapisi dengan plastik. Kebanyakan orang membuat slab dengan ukuran 40 x 40 x 6 cm. Untuk membuat slab dengan ukuran tersebut dibutuhkan lateks karet kurang lebih sebanyak 15 liter.
Komentar
Posting Komentar